Surprisingly

Waktu itu di Semarang, minggu dini hari.

Duduk dilantai, menemani mu yang terlalu addicted dengan olahraga; iya, dini hari. Kemeja hitam yang masih aku pakai setelah seharian kupakai, lengkap dengan ripped jeans, dan kamu yang sudah siap seragam kebanggan mu; kaos tanpa lengan lengkap dengan celana pendek hitam. Waktu di laptop ku menunjukkan 1.40 dini hari. Setelah seharian kamu menemani ku berkeliling kota, kemudian mampir di sebuah bar, disebuah pojok kota ini; bicara bagaimana kita akan menjalani hidup ini selanjutnya dengan sebuah keluarga kecil yang sedang kita usahakan dan kamu bersikeras untuk tetap workout.

Sedikit mengingat tentang percakapan tersebut, aku tak kan pernah meminta apapun lagi pada Tuhan, selain hubungan kita yang akan baik-baik saja, kamu yang selalu dijaga Tuhan, dan semua "semoga" kita; tentu saja. Haha. Kamu sudah lebih dari sebuah kata cukup, Sayang.

Mengingat bagaimana kamu bisa menerima semua tentang ku. Ditemani beberapa botol bir dan beberapa batang rokok, sungguh bagaimana percakapan tentang banyak hal yang kita bahas bisa begitu terasa menyenangkan.

Hubungan kita masih seumur jagung saat itu.
Kamu, aku dan semua harap yang begitu manis, tentu saja kadang kita tertawakan tapi bersama aamiin yang kita ucap diam-diam dalam hati.

Kemudian dalam hitungan hari terlewati berubah menjadi hitungan minggu, lalu surprisingly kita mampu bertahan untuk hitungan bulan. Berat memang.

Actually, i still wondering how we can be through all the shits that we had been done before.

Terimakasih banyak untuk semua sabar yang hingga kini masih selalu kamu perpanjang.


And btw, terimakasih banyak untuk HappyMealnya.
Loveyou through thick and thin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

iik

Beritahu aku

Kamu Bising di Kepalaku