Kamu Bising di Kepalaku

•••••••••••••••••••••••
Sini, duduk bersama ku menikmati siang dengan sisa-sisa hujan pagi tadi, yang banyak kata orang jadi saat-saat untuk; jatuh cinta-kehilaangan, mengenang-membuat memorial, memutuskan-merajut, kembali-pergi, menangis-tertawa, berpisah-bertemu, sendiri-bersama.



Sembari menyeruput americano on the rock, aku mengundangmu untuk duduk bersama ku, bicara soal apa saja yang kau suka. Musik kesukaan mu, kegiatan yang kamu sukai, atau pola hidup sehat mu yang kadang aku hanya bisa menanggapinya dengan mengangguk dan terseyum, ketika kamu menceritakannya.

Kamu terlalu banyak diam ketika bersama ku, bibir mu terlalu menggemaskan kalau hanya kau gunakan untuk diam, Sayang. Duduklah berhadapan dengan ku, maka aku bisa melihat mata coklat gelap mu yang selalu terbingkai rapi dengan kacamata mu itu. Tapi aku paling suka suara beratmu. Astaga, kalau saja aku tak bisa menahan diri, mungkin sudah ku peluk kau ditengah keramaian. Hahaha.
Tubuh mu seperti morfin.

.......................

Kemari Sayang, kamu terlalu disayangkan ketika kamu hanya aku lewatkan.

Bagaimana hari mu?
Bukankah kemarin malam, seharusnya kita melewatkan malam bersama? Tapi sepertinya aku yang terlalu gengsi untuk meminta mu datang menyusul ku, duduk disudut kedai sembari menyeruput kopi bersama.

Baru hitungan hari berlalu, tapi kamu terlalu menjadi candu. Aku pusing. Kamu terlalu bising dikepala ku, Sayang. Pesonamu mengerikan, baru sekali pertemuan sudah runtuh pertahanan. Aku sadar betul, hati ku masih belum sepenuhnya sembuh, tapi sudah berkali-kali kamu menyita kecemasanku. Aku terlalu menunggu semua yang ada tentang mu. Aku tidak suka ini, terlalu membuat ku frustasi.

Aku tahu, kamu dan aku terlalu berbeda; menurut ku -- kamu yang sama sekali tidak menyukai keramaian, tapi aku terlalu mencintai bising musik dan euforia sebuah pertemuan. Tapi bukankah cinta adalah tentang toleransi sebuah perbedaan?

Kamu tahu, Sayang?
Belum apa-apa aku sudah berani membayangkan hidup bersama denganmu. Mungkin menyenangkan bisa berbagi atap dengan mu.
Atau mungkin aku yang terlalu terbawa suasana? Mungkin karena kamu yang terlalu membawa ku membumbung tinggi, atau hanya aku saja yang menilainya berlebihan?

Cemas ku masih sama seperti kemarin.
Click sound itu masih aku tunggu, untuk sekedar tahu kabar atau apa yang sedang kamu lakukan.  :)

Jangan menyerah, aku masih terus mengusahakan mu.
Marahalah, tak apa.
Keluarlah sebentar, tak apa.
Asal kau selalu berjanji, untuk kembali.
Ketuklah pintu itu, maka aku akan dengan senang hati membukanya dan menyambutmu dengan peluk hangat.




Cepatlah kembali!
Aku rindu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

iik

Beritahu aku