iik

Anw terimakasih sudah mau repot-repot datang, hanya sekedar untuk menemani ku menyeruput kopi ku.

...

Kata mu, aku ada pada hubungan denga manusia yang penuh luka.
Kata mu, memulai ini semua bukan sebuah keputusan dan jalan yang mudah.
Kata mu, untuk masuk ke situasi seperti ini adalah hal yang secara sadar kamu ambil risikonya.

..

Kepada ik,
Aku sedang terang-terangan rindu, hingga segelas kopi yang baru aku seduh tercium aroma mu.
Hangat yang sedang ku genggam dalam pilu, kalah dengan senyum yang pernah kau sajikan dalam tatapmu.

Namun,
Rindu tak pernah banyak bicara, aku bukan orang biasa mengucap rindu dengan mudah. Aku hanya dibuatnya tak berdaya, hingga saat nurani mulai gemas, aku dibuatnya percaya.

Kepada Ik,
Kita pernah sama-sama merasa mati dalam luka yang terpatri,
Namun, kini rasanya kita sama-sama lelah menanti. Mari kita saling mengerti; dalam setiap rasa yang ingin dipahami.

Ik.
Kamu tahu apa yang paling lebih menenangkan setelah perjalanan yang tak pernah terprediksi? Berada dalam dekapmu, hangat itu mengalir perlahan tapi pasti; detak mu mulai menjadi irama yang sedang aku nikmati ritmenya.

Bersama mu dihari kemarin, membuat ku memiliki kesempatan untuk bisa megenang. Sebab ada banyak tawa yang kurekam dalam ingatan. Ada peluk yang mungkin bisa aku rindukan.

Bila esok tak ada lagi kesempatan untuk bersamamu kembali, tak ada lagi jumpa yang sama seperti hari kemarin, setidaknya ada memori yang sudah aku simpan. Tak apa sungguh, aku cukup paham perihal perpisahan yang mutlak terjadi.

Pulang tak pernah susah bila kita tahu ke mana akan menuju.
Pulang tak pernah mudah bila harus bertemankan perpisahan.
Dan kepadamu, aku harap, aku bisa menuju pulang.

Kamu, awal tanpa akhir, dan akhir yang tak membutuhkan awalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beritahu aku

Kamu Bising di Kepalaku