Perih Mengajarkan kita untuk Berlapang Dada
Lidah ku sempat kelu karena hati ku pernah mati rasa untuk beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci, marah, sedih pernah begitu pekat, begitu sesak memenuhi rongga dada. Membenci dan merindukan mu saat itu adalah 2 hal yang aku rasakan secara bersamaan. Bukan hal yang normal memang. Mengenyahkan mu pun menjadi hal yang sempat aku lakukan. Kemudian aku mulai membangun rasa untuk dia, yang begitu sabar menemani ku untuk bisa keluar dari ruang gelap yang kau rampas cahayanya. Katamu, diam-diam kamu ikut terluka dan berduka. Kamu menyesali tingkah bodoh mu yang mebuat jalinan kita terkoyak. Kamu mengutuki diri yang sempat sengaja menggurat luka dan membuat sebuah lubang di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai tebuka celahnya. ....................... Hatiku ku pernah kau hancurkan dengan sengaja, membuat pondasi yang ku bangun susah payah selama ini porak poranda. .......................... Aku tak pernah ingin mengingat kembali ka...