TEDUH
Matamu bergerak lebih daripada penyihir mengayunkan tongkat, senyummu memberi keteduhan seakan malaikat mengepakkan sayapnya di dekatku.
Aku adalah pelupa.
Dan tiba-tiba senyummu ada untuk selalu aku ingat.
Ingatlah namaku untuk nanti kau mengatakkannya di dalam hati, saat kau sampai pada titik terlelahmu.
Janji ku, tangan ku akan selalu siap untuk meringankan segala lelah mu.
Bahu ku akan selalu ada ketika kau sudah terlalu lelah dan tak sanggup lagi melakukan segalanya.
Aku menemukan sukacita didalam melihat mu berkali-kali. Setiap hari. Bahkan ketika aku menuju akhir disebuah hari ku.
Bersitirahatlah. Biarkan kali ini aku yang berlari. Biar kali ini aku membawa semuanya.
Ingatkan saja aku ketika arah lariku tidak sesuai dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini.
Aku mencintaimu dengan teramat, Ibu.
Anisa.
Aku adalah pelupa.
Dan tiba-tiba senyummu ada untuk selalu aku ingat.
Ingatlah namaku untuk nanti kau mengatakkannya di dalam hati, saat kau sampai pada titik terlelahmu.
Janji ku, tangan ku akan selalu siap untuk meringankan segala lelah mu.
Bahu ku akan selalu ada ketika kau sudah terlalu lelah dan tak sanggup lagi melakukan segalanya.
Aku menemukan sukacita didalam melihat mu berkali-kali. Setiap hari. Bahkan ketika aku menuju akhir disebuah hari ku.
Bersitirahatlah. Biarkan kali ini aku yang berlari. Biar kali ini aku membawa semuanya.
Ingatkan saja aku ketika arah lariku tidak sesuai dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini.
Aku mencintaimu dengan teramat, Ibu.
Anisa.

Komentar
Posting Komentar