Gadis itu (pernah) Lebam Biru
Luka lebam yang tak terlihat warnanya. Tapi sakit yang dirasa itu, entah kapan akan sembuh.
.................................................................
Malam itu, adalah malam yang seharusnya menjadi salah satu malam yang mengharu biru. Gadis itu punya segalanya. Wajah manis. Penampilan yang eye catchy. Pekerjaan yang mulai settle, lingkungan kantor yang menyenangkan. Keluarga yang begitu hangat. Teman dan sahabat yang begitu menyayanginya. Dan seorang kekasih.
.................................................................
Malam itu hujan mengguyur.
Gadis itu tergugu, tepat ketika pergantian umurnya.
Tak ada aroma yang lebih bisa membuatnya betah selain tanah setelah hujan. Karena pada tanah harapannya rebah
Hari itu, hari dimana tak diinginkan kedatangannya oleh sang Gadis. Semesta menangis, memeluknya menemani detik-detik terakhir wajah laki-laki itu mengudara dalam tatapannya.
Gadis itu ringkih selepas kepergian laki-lakinya dan keputusan laki-laki itu untuk tak melanjutkan semuanya.
Seketika dunianya runtuh. Menatap cermin pun ia tak mampu. Bayangannya dibenda itu hanya menertawakan dirinya yang sudah terlalu bodoh mau menunggu dan mencintai seorang pengecut. Seorang pengecut yang hanya bermain-main selama 2.190 hari.
Bahkan dengan situasi seperti ini, ia masih saja menunggunya; laki-laki yang mungkin sudah tak menganggapnya ada. Beberapa orang terdekatnya, menganggap dirinya luar biasa bodoh, luar biasa idiot masih berharap. Tapi, bukankah perasaan selalu punya hak untuk dijatuhkan kepada siapa?
Dulu mereka pernah memperjuangkan kata "kita". Melewati hampir semua hitungan hari dalam kalender Masehi. Berbagi semua asa yang dirajut, berbagi semua keluh yang membuat pundak kadang terasa seperti langit menindih tanpa batah.
Kehilangan laki-laki itu jelas adalah hal yang paling ia runtuki, sebuah kejadian yang hampir membuat air matanya habis. Sebuha proses yang harus ia lewati, hingga terkadang ia lebih memilih mati ketimbang harus menghadapinya.
Tak akan pernah ia lupa getirnya luka. Namun hingga akhirnya ia sadar bahwa kehilangannya saat ini, tidak akan lebih sakit jika itu terlanjut nanti.
.................................................................
Malam itu, adalah malam yang seharusnya menjadi salah satu malam yang mengharu biru. Gadis itu punya segalanya. Wajah manis. Penampilan yang eye catchy. Pekerjaan yang mulai settle, lingkungan kantor yang menyenangkan. Keluarga yang begitu hangat. Teman dan sahabat yang begitu menyayanginya. Dan seorang kekasih.
.................................................................
Malam itu hujan mengguyur.
Gadis itu tergugu, tepat ketika pergantian umurnya.
Tak ada aroma yang lebih bisa membuatnya betah selain tanah setelah hujan. Karena pada tanah harapannya rebah
Hari itu, hari dimana tak diinginkan kedatangannya oleh sang Gadis. Semesta menangis, memeluknya menemani detik-detik terakhir wajah laki-laki itu mengudara dalam tatapannya.
Gadis itu ringkih selepas kepergian laki-lakinya dan keputusan laki-laki itu untuk tak melanjutkan semuanya.
Seketika dunianya runtuh. Menatap cermin pun ia tak mampu. Bayangannya dibenda itu hanya menertawakan dirinya yang sudah terlalu bodoh mau menunggu dan mencintai seorang pengecut. Seorang pengecut yang hanya bermain-main selama 2.190 hari.
Bahkan dengan situasi seperti ini, ia masih saja menunggunya; laki-laki yang mungkin sudah tak menganggapnya ada. Beberapa orang terdekatnya, menganggap dirinya luar biasa bodoh, luar biasa idiot masih berharap. Tapi, bukankah perasaan selalu punya hak untuk dijatuhkan kepada siapa?
Dulu mereka pernah memperjuangkan kata "kita". Melewati hampir semua hitungan hari dalam kalender Masehi. Berbagi semua asa yang dirajut, berbagi semua keluh yang membuat pundak kadang terasa seperti langit menindih tanpa batah.
Kehilangan laki-laki itu jelas adalah hal yang paling ia runtuki, sebuah kejadian yang hampir membuat air matanya habis. Sebuha proses yang harus ia lewati, hingga terkadang ia lebih memilih mati ketimbang harus menghadapinya.
Tak akan pernah ia lupa getirnya luka. Namun hingga akhirnya ia sadar bahwa kehilangannya saat ini, tidak akan lebih sakit jika itu terlanjut nanti.
Komentar
Posting Komentar