Memungut Rindu
Di hadapan kehilangan, aku memandangi kenanganku sendiri - yang memantul di cahaya.
Entahlah. Aku masih berharap kepergianmu hanyalah seberkas semu; yang suatu waktu nanti memudar dan tiba-tiba kamu berdiri di depan ku, tersenyum, menggenggam tangan ku dan kita bisa berjalan bersisian. Tapi nyatanya aku salah, aku terluka terlalu dalam.
Mengapa kepergian mu saja aku masih aku tafsirkan hanya sebagai mimpi. Kepergian mu sunggu mencabik separuh aku yang telah hidup di bawah bayangmu. Walau hanya bayang mu, itu sudah cukup hangat untuk ku.
Aku ingin mencoba yakin. Tapi mataku kian gelap - lebih gelap dari malam tak berbintang. Sungguh aku benar-benar ingin bisa bergerak di semestaku lagi tanpa kamu didalam - andai aku bisa.
Entahlah, aku seperti kehilangan kata-kata. Detik kian berlalu, namun nama mu masih tersebut disepertiga malamku. Tidak pernah semudah ini, tidak. Aku masih meyakini, pertemuan kita akan datang suatu hari nanti.
Walau aku tahu, kadang seperti harapan bodoh.
Aku sadar betul untuk bersamamu, tidak cukup hanya dengan segenggam doa, butuh sebuah kepantasan untuk ada disampingmu.
.....................
Dan aku disini, hari ini, memungut rinduku yang gugur bersama bulir air disudut kelopak.
Entahlah. Aku masih berharap kepergianmu hanyalah seberkas semu; yang suatu waktu nanti memudar dan tiba-tiba kamu berdiri di depan ku, tersenyum, menggenggam tangan ku dan kita bisa berjalan bersisian. Tapi nyatanya aku salah, aku terluka terlalu dalam.
Mengapa kepergian mu saja aku masih aku tafsirkan hanya sebagai mimpi. Kepergian mu sunggu mencabik separuh aku yang telah hidup di bawah bayangmu. Walau hanya bayang mu, itu sudah cukup hangat untuk ku.
Aku ingin mencoba yakin. Tapi mataku kian gelap - lebih gelap dari malam tak berbintang. Sungguh aku benar-benar ingin bisa bergerak di semestaku lagi tanpa kamu didalam - andai aku bisa.
Entahlah, aku seperti kehilangan kata-kata. Detik kian berlalu, namun nama mu masih tersebut disepertiga malamku. Tidak pernah semudah ini, tidak. Aku masih meyakini, pertemuan kita akan datang suatu hari nanti.
Walau aku tahu, kadang seperti harapan bodoh.
Aku sadar betul untuk bersamamu, tidak cukup hanya dengan segenggam doa, butuh sebuah kepantasan untuk ada disampingmu.
.....................
Dan aku disini, hari ini, memungut rinduku yang gugur bersama bulir air disudut kelopak.
Komentar
Posting Komentar