Tahukah Kamu? Salahkah Aku?

Aku menyadari bahwa apa-apa yang aku lakukan tak jarang berlebihan., melewati batas yang mungkin kamu sebut wajar. Tak apa, aku sadar tentang hal itu.

Tak kadang juga mungkin kamu merasa tak nyaman dengan perlakuan ku,

Tapi kamu tahu, kan?
Tentang apa-apa yang aku rasakan kepadamu dan hanya untuk mu seorang?
Tentang aku yang (kembali) memperjuangkan mu dengan sebuah keikhlasan ku, pun dengan setabahnya tubuhku?
Aku harap kamu tahu.

Detik menuju jam. Jam naik menjadi hari, berubah menjadi minggu. Kemudian terhitung bulan dan tahun, ragamu menjadi candu untuk ku. Kamu adalah seorang yang begitu aku inginkan dalam lingkaran gravitasiku; teruntuk menggenapkanku.

Aku bahkan (kembali) berjuang sampai aku lupa bahwa aku merupakan seseorang yang juga layak untuk diperjuangkan - untuk kamu perjuangkan. Aku terlalu sibuk memikirkan semua perihal kamu hingga aku terkadang lupa untuk menyayangi diriku sendiri.

Oh, aku tahu, mungkin aku terlalu menikmatinya. Menikmati perjuanganku sendiri. Karena pada nyatanya, disaat aku berjuang, kamu selalu mengabaikan apa-apa yang sepenuh hati, aku pesembahkan. Mungkin juga karena aku terlalu mempercayaimu, percaya bahwa aku adalah satu-satunya sosok yang begitu kamu ingini sepenuh hati.

Salahkah aku?
Salahkah aku menjadi orang yang begitu keras kepala tentang "mencintai kamu"?
Salahkah aku yang begitu menginginkanmu sampai kenyataan sepahit ini rela aku telan sendir?

--------------------------------

Karena menurutku tidak, aku rela melakukannya karena aku memimpikan masa depan yang indah bersamamu. Semoga semesta mendukung apa-apa yang aku ingini. Semoga tak lama lagi. Setelah tulisanku ini.

Dengan semua yang aku lakukan untuk mu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya memporak-porandakan seisi dadaku, menancapkan pilu sebagai sesuatu yang wajar. Mengatakan "loveyou!" tapi entah siapa yang sebenarnya berada di dalam hati kecilmu itu.

---------------------------------

Dan..
Teruntuk hatimu..
Aku menyampaikan salam bersama dinginnya rindu. Demi semesta alam, tak mungkin ada dua nama di dalam satu-satunya hatimu.
Mulailah jujur kepada dirimu tentang siapa yang seutuhnya kamu butuhkan untuk menggenapkanmu, untuk menjadi pelengkapmu.

Jangan sampai kamu lupa, bahwa aku adalah seorang yang sudah mulai baik-baik saja sebelum kata "kita" menjadi pegangan lagi dan akan terus berada di dalam kebaik-baikkan saja tanpa adanya kamu di dalam gravitasiku. Jangan salahkan aku bila pada waktunya nanti, aku akan berjalan ke arah yang berlawanan dengan langkahmu. Karena kadang melelahkan, cinta yang aku persembahkan dengan seutuhnya sebuah hati, hanya berbalas seperlunya hatimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

iik

Beritahu aku

Kamu Bising di Kepalaku