Hujan itu Magis

Gemericik air turun membasahi kaca cendala. Mengalir lembut, mungkin terdengar berlebihan, tapi melihat mereka bernyanyi. Haha. Aku masih ingat beberapa hari lalu aku memilih untuk menangis karena rindu. Rindu yang membuat ku sesak. Sepertinya langit sedang menangisi malam, atau mungkin ikut bersedih. Sepertinya mereka mengerti dan juga merasa kamu berubah. Ah, kenapa aku selalu berlebihan.

Aku masih saja duduk bersama coklat panas dan aksara. Andai kamu ada, mungkin isi blog ku tidak akan semuram ini. Ah, lagi-lagi aku berlebihan.

Kenapa rindu ku selalu beriring dengan hujan? Tak bisakah Tuhan berbaik hati untuk mendatangkan langit yang cerah ketika aku rindu? hingga aku bisa menikmati rindu dengan sebuah senyum simpul.

Hujan malam ini mengalun bersama rindu. Merenyuh hati pada setiap dentingnya. Indah memang, tapi terasa pilu.

Mengapa rindu bisa begitu magis? Ia bisa membuat ku tiba-tiba melihat bagaimana kamu yang akhirnya (dulu) bahagian tanpa aku. Biasanya hujan tak pernah semagis ini dan tidak semenyedihkan ini. 

Aku masih membenci hujan dan merindukan mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

iik

Beritahu aku

Kamu Bising di Kepalaku