Andai Aku adalah Semesta
Dan kopi selalu bisa memulai hari ku, mungkin hanya untuk memulai sebuah pekerjaan atau hanya untuk mengisi laman blog ku dengan aksara yang selalu kau anggap "sisi melankolisku" yang (lagi-lagi) kamu anggap bualan semata. Sudah hampir dua jam aku duduk di sebuah sudut kedai kopi yang sebenarnya gerainya sudah banyak di area publik untuk kita sambangi.
Akan sedikit aku gambarkan bagaimana kondisinya, saat ini aku duduk di sebuah meja yang hanya cukup untuk sebuah notebook berukuran 10 inch, sebuah papper cup kopi panas berukuran sedang, sepiring butter croisant favorit ku. Di depan ku terhampar danau buatan dengan warna hijau tua bercampung turqoise dengan patulan matahari. Disekelilingnya berjejer pohon rindang lebat dengan sebuah taman kecil yang manis dengan beberapa bunga lili dan kresan yang didominasi warna biru, putih dan kuning, disisi timur danau.
Menatap keluar jendela, matahari sepertinya sedang mempunyai mood yang baik hari ini, cahayanya memantul di atas riak air pada danau dihadapan ku, entah aku suka memandang ini, sambil mencoba membayangkan mu, menggambar huruf F besar di udara. Haha.
Kemarin merupakan hari yang panjang untuk ku, pekerjaan ku yang baru selesai setelah matahari tenggelam, kemudian kita yang ternyata sedang tidak baik-baik saja. Lelah.
Tidak, aksara ku hari ini bukan tentang masalalu ku atau luka kunjung sembuh.
Hari ini aku ingin bercerita kepadamu tetang....
Suatu ketika sang laut jatuh cinta pada senja, setiap sore laut selalu asik menatap senja, sampai suatu ketika saat itu datang, saat dimana senja akan meninggalkan laut dalam waktu yang tak sebentar. Laut akan merintih kesakitan bila malam tiba, berharap keesokan harinya bisa bertemu lagi dengan senja.
Kamu tahu, aku bagaikan laut dan kamu adalah senja. Sore hari kita dipertemukan dan mungkin keesokan harinya mungkin tak berjumpa atau mungkin berjumpa. Terserah sang langit berkehendak, apakah akan menyuruh hujan datanng atau malah bersengkokol dengan awan agar mendung bergelayut.
Andai aku seperti semesta yang bisa mengatur semuanya. Menentukan sebuah perpisahan atau mengatur sebuah pertemuan. Sesuka hatiku
Akan sedikit aku gambarkan bagaimana kondisinya, saat ini aku duduk di sebuah meja yang hanya cukup untuk sebuah notebook berukuran 10 inch, sebuah papper cup kopi panas berukuran sedang, sepiring butter croisant favorit ku. Di depan ku terhampar danau buatan dengan warna hijau tua bercampung turqoise dengan patulan matahari. Disekelilingnya berjejer pohon rindang lebat dengan sebuah taman kecil yang manis dengan beberapa bunga lili dan kresan yang didominasi warna biru, putih dan kuning, disisi timur danau.
Menatap keluar jendela, matahari sepertinya sedang mempunyai mood yang baik hari ini, cahayanya memantul di atas riak air pada danau dihadapan ku, entah aku suka memandang ini, sambil mencoba membayangkan mu, menggambar huruf F besar di udara. Haha.
Kemarin merupakan hari yang panjang untuk ku, pekerjaan ku yang baru selesai setelah matahari tenggelam, kemudian kita yang ternyata sedang tidak baik-baik saja. Lelah.
Tidak, aksara ku hari ini bukan tentang masalalu ku atau luka kunjung sembuh.
Hari ini aku ingin bercerita kepadamu tetang....
Suatu ketika sang laut jatuh cinta pada senja, setiap sore laut selalu asik menatap senja, sampai suatu ketika saat itu datang, saat dimana senja akan meninggalkan laut dalam waktu yang tak sebentar. Laut akan merintih kesakitan bila malam tiba, berharap keesokan harinya bisa bertemu lagi dengan senja.
Kamu tahu, aku bagaikan laut dan kamu adalah senja. Sore hari kita dipertemukan dan mungkin keesokan harinya mungkin tak berjumpa atau mungkin berjumpa. Terserah sang langit berkehendak, apakah akan menyuruh hujan datanng atau malah bersengkokol dengan awan agar mendung bergelayut.
Andai aku seperti semesta yang bisa mengatur semuanya. Menentukan sebuah perpisahan atau mengatur sebuah pertemuan. Sesuka hatiku
Semoga malam ini rindu tak terlalu menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar