Perih Mengajarkan kita untuk Berlapang Dada

Lidah ku sempat kelu karena hati ku pernah mati rasa untuk beberapa waktu. Leburan rasa kecewa, benci, marah, sedih pernah begitu pekat, begitu sesak memenuhi rongga dada. Membenci dan merindukan mu saat itu adalah 2 hal yang aku rasakan secara bersamaan. Bukan hal yang normal memang. Mengenyahkan mu pun menjadi hal yang sempat aku lakukan.

Kemudian aku mulai membangun rasa untuk dia, yang begitu sabar menemani ku untuk bisa keluar dari ruang gelap yang kau rampas cahayanya.

Katamu, diam-diam kamu ikut terluka dan berduka. Kamu menyesali tingkah bodoh mu yang mebuat jalinan kita terkoyak. Kamu mengutuki diri yang sempat sengaja menggurat luka dan membuat sebuah lubang di dadaku. Namun kini, setelah sekian waktu jengah digilas rasa yang ada, hatiku mulai tebuka celahnya.

.......................
Hatiku ku pernah kau hancurkan dengan sengaja, membuat pondasi yang ku bangun susah payah selama ini porak poranda.


..........................
Aku tak pernah ingin mengingat kembali kapan kau meratakan pondasi ku dengan tanah. Yang kuingat hanya mendadak hatiku tak mampu merasa. Tak kutemukan pendar-pendar rasa yang pernah meluber ketika temu menjadi ujungnya. Tak ada pula hangat yang diam-diam menyusup masuk ketika mata kita saling bertatap.

Setelah beberapa detik berusaha mencerna, barulah rasa yang biasa disebut dengan kecewa, marah, sedih berduyun-duyun masuk tanpa permisi. Mereka menginjak-injak kenangan manis yang pernah ada, merobohkan tembok kepercayaan yang selama ini menjadi kebanggaan ku dan pada akhirnya memusnahkan harapan yang terjalin rapi..

Tangis ku pecah.
Sekali saja; batin ku. Sekali saja menangis di hadapan mu. Kamu yang dengan mudah beralasan meninggalkan ku untuk kebaikkan ku. BULLSHIT!

Tak sudi menunjukkan wijudku yang sedang babak belur penuh luka di hadapan mu. Aku tak butuh dikasihani.

Ah ya, aku ingat sekarang, saat itu malam setelah aku baru saja pulang dari luar kota, membawa tiket pesawat untuk kita berlibur di Derawan. Ketika kamu berikata MUAK dengan ku dan hubungan ini. 

 ...................

Dan ya, setelah itu, aku tak mau ada lagi sakit. Luka ini masih basah dan menganga. Hati ku masih belum bisa melunak.

Sungguh aku berusaha memaafkan mu, namun aku masih belum mampu. Dan sekarang kamu memohon untuk pulang ke beranda rumahku. Dan akhirnya aku memilih untuk melapangkan dada. Ya memang, aku masih menyayangi mu. Dan ya, aku ttahu hubungan berada di level yang lebih dewasa.

Setidaknya, ikutlah berjuanglah dengan ku. Aku sudah bosan untuk mengayuh sepeda ini sendiri. Jika kau memang bersungguh-sungguh, kayulah bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

iik

Beritahu aku

Kamu Bising di Kepalaku